Sabtu, 19 April 2008

EQ DALAM ISLAM

KIAT-KIAT MENINGKATKAN

KECERDASAN EMOSIONAL MELALUI KEIMANAN

OLEH : Tahrir, S.Psi.

ABSTRAK

Allah SWT telah menciptakan manusia dengan kemamuan yang sempurna dimana tidak ada satu pun makhluk-Nya yang menyamai manusia dalam hal kemampuannya walaupun secara fisik manusia memiliki baanyak keterbatasan akan tetapi secara psikologis manusia memiliki keluarbiasaan.

Emosi adalah salah satu asepk psikologis yang memiliki peranan sangat besar dalam kehidupan manusia. Emosi memiliki tugas yang sangat berat yaitu menghadapi masalah-masalah yang tidak mampu dilakukan oleh pikiran. Emosi sendiri memiliki arti suatu perasaan dan pikiran khasnya, suatu keadaan biologis dan psikologis, dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak.

Ketika manusia mampu dalam mengendalikan dan mengatur emosinya maka berarti ia telah memiliki kecerdasan emosional adalah yaitu suatu kemampuan untuk mengenali perasaan, meraih dan membangkitkan perasaan untuk membantu pikiran, memahami perasaan dan maknanya, mengendalikan perasaan secara mendalam sehingga membantu perkembangan emosi dan intelektual.

Mengingat pentingnya peran kecerdasan emosional dalam kehidupan manusia maka dipandang perlu bagisetiap manusia untuk selalu meningkatkan kecerdasan emosionalnya. Islam sebagai agama paling sempurna memiliki kita atau cara yang sangat jitu dalam meningkatkan kecerdasan emosional umatnya yaitu melalui keimanan.

A. Pendahuluan

Para psikolog sepakat mengartikan bahwa emosi adalah keadaan yang muncul dari organisme manusia secara otomatis sebagai penyesuaian diri terhadap situasi-situasi tertentu. Emosi dalam makna paling harfiah seperti dalam Oxford English Dictionary didefinisikan sebagai setiap kegiatan atau pengalaman, pikiran, perasaan, nafsu setiap keadaan mental yang hebat dan meluap-luap.

Menurut Goleman (1997;411) emosi adalah suatu perasaan dan pikiran khasnya, suatu keadaan biologis dan psikologis, dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak. Ahmadi (1991;101) menggambarkan emosi gembira mendorong suasana hati untuk gembira, emosi marah mendorong suasana hati untuk menyerang atau mencerca sesuatu. Emosi juga dapat mengaktifkan, mengarahkan, dan menyertai perilaku-perilaku manusia.

Istilah Kecerdasan Emosional popular sejak sekitar tahun 1990-an berdasarkan penelitian yang memiliki rentang waktu sangat panjang tidak kurang dari 20 tahun. Goleman (1995) adalah tokoh pertama yang mempopulerkan istilah ini berdasarkan penelitiannya menunjukan bahwa banyak orang yang memiliki IQ tinggi tapi tidak sukses dalam meraih cita-citanya, akan tetapi sebaliknya banyak orang yang memiliki IQ pas-pasan kariernya cukup baik atau dengan kata lain sukses dalam menjalani hidupnya.

Berdasarkan penelitian itu ternyata didapatkan ada faktor lain yang menjadikan sukses atau tidaknya seseorang dan faktor itu justru cenderung memiliki hubungan yang sangat erat dengan kesuksesan seseorang dalam meraih cita-citanya. Goleman (1995) dari hasil penelitian itu menyatakan bahwa Emosi seseorang sangat besar mempengaruhi kehidupan seseorang.

Ternyata orang yang mampu mengenal dan mengendalikan emosi dirinya cenderung mampu menyelesaikan masalah dengan baik dibandingkan dengan orang yang tidak mampu mengenali dan mengendalikan emosinya. Orang yang mampu menjalin hubungan baik dengan orang lain cenderung lebih mudah dalam menyelesaikan masalahnya karena ia akan memdapat dukungan atau suppoart dari orang lain. Keadaan ini akan membuat dirinya menjadi orang selalu optimis dan bergairah dalam menghadapi hidupnya.

Salovey dan Mayer (dalam Stein, 2000;30) pencipta istilah kecerdasan emosi menjelaskan bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk mengenali perasaan, meraih dan membangkitkan perasaan untuk membantu pikiran, memahami perasaan dan maknanya, mengendalikan perasaan secara mendalam sehingga membantu perkembangan emosi dan intelektual.

Menurut Bor-On (dalam Stein, 2000;4) kecerdasan emosional adalah serangkaian kamampuan, kompetensi, dan kecakapan non kognitif, yang mempengaruhi kemampuan seseorang untuk berhasil mengatasi tuntutan dan tekanan lingkungan. Menutur Stein (2000;30) kecerdasan emosional adalah serangkaian kecakapan yang memungkinkan manusia melapangkan jalan di dunia yang rumit, aspek pribadi, sosial, dan pertahanan dari seluruh kecerdasan, akal sehat yang penuh misteri, dan kepekaan yang penting untuk berfungsi secara efektif setiap hari.

Dalam bahasa sehari-hari kecerdasan emosi adalah sering disebut “street” smart (pintar) atau kemampuan khusus yang disebut sehat, ini terkait dengan kemampuan membaca lingkungan sosial, politik, dan menatanya kembali, kemampuan memahami dengan spontan apa yang diinginkan dan dibutuhkan orang lain, kelebihan dan kekurangan mereka, kemampuan untuk tidak terkena oleh tekanan, dan kemampuan untuk menjadi orang yang menyenangkan, yang kehadirannya didambakan orang lain (Steven & Howard, 2000)

Gadner (dalam Stein dan Howard, 2000;32) menyebutkan bahwa kecerdasan emosional terdiri dari dua kecakapan yaitu kecakapan interpersonal dan kecakapan intrapersonal. Goleman (1997;47) mendefinisikan kecerdasan emosional sebagai meta-ability, yaitu yang menentukan seberapa baik kita mampu menggunakan keterampilan-keterampilan lain manapun yang dimiliki, termasuk intelektual yang belum terasah. Adapun ciri-ciri kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk mengenali emosi diri, kemampuan mengelola emosi, kemampuan memotivasi diri, kemampuan mengenali emosi orang lain atau empati, dan kemampuan membina hubungan.

Menurut Gottman (dalam Agustian, 2001;102) kecerdasan emosional adalah suatu kemampuan mengatur keadaan emosi diri sendiri. Kemampuan ini meliputi keterampilan menenangkan diri ketika marah, menenangkan jantung dengan cepat, unjuk kerja yang unggul, memusatkan perhatian, berhubungan dengan orang lain, memahami orang lain.

Berdasarkan definisi-definisi yang telah dikemukakan di atas maka dapat disimpulkaan bahwa kecerdasan emosional adalah suatu kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk mengatur keadaan emosi diri sendiri. Kemampuan tersebut meliputi kemampuan mengenali emosi diri, kemampuan mengelola emosi, kemampuan memotivasi diri, kemampuan mengenali emosi orang lain atau empati, dan kemampuan membina hubungan dengan orang lain.

B. Kecerdasan Dalam Islam

Islam adalah agama fitrah, islam tidak mengingkari pentingnya kebutuhan fisiologis alamiah manusia yang bersifat fitrah. Islam hanya menekankan pentingnya mengontrol dan mengendalikan emosi yang berlebihan. Baik emosi yang berhubungan dengan kebutuhan fisiologis maupun emosi religius.

Dengan karunia-Nya, Allah membekali manusia dan hewan dengan berbagai emosi yang membuat mampu melangsungkan kehidupannya. Emosi takut, misalnya, mendorong kita untuk menghindar dari berbagai bahaya yang mengancam. Emosi marah mendorong kita untuk mempertahankan diri, dan berjuang untuk menjaga kelangsungan hidup. Emosi cinta merupakan landasan keterpautan hati antara dua jenis dan ketertarikan antara satu sama lainnya guna tetap terpeliharanya kelangsungan hidup umat manusia.

Menurut Najati (1997;119) meskipun emosi mempunyai fungsi yang penting dalam kehidupan manusia, namun emosi yang berlebihan bisa membahayakan kesehatan fisik dan psikis manusia. Emosi benci yang berlebihan akan menghalangi seseorang untuk berfikir realistik, karena rasa benci tersebut seseorang telah menghilangkan seluruh kebaikan orang lain dan menganggap orang yang dibencinya seluruhnya jelek atau membahayakan dirinya. Oleh kerena itu Islam memandang perlu untuk mengatur, mengontrol dan menguasai emosi agar tidak merugikan diri manusia sendiri dan orang lain.

Islam memiliki konsep yang sangat tepat untuk dapat mencerdaskan emosi seseorang yaitu dengan keimanan. Iman menurut para ahli Hukum Islam adalah kepercayaan dalam hati dan diucapkan dengan lisan dan diamalkan dengan anggota badan. Iman menurut para ahli Sufi adalah suatu keyakinan yang penuh bahwa segala sesuatu yang ada di dunia adalah atas kehendaknya dan segala sesuatu itu akan hilang juga atas kehendaknya.

Kesedihan seseorang karena tidak dapat menggapai apa yang dicita-citakannya mungkin dapat membuatnya murung. Seseorang biasanya merasa sangat tertekan dan merasa kesal ketika apa yang diinginkannya tidak tercapai. Dalam kondisi ini Islam memberikan solusi terbaik untuk mengatasi kondisi emosi yang tidak stabil yaitu dengan mengembalikan kepercayaan bahwa keberhasilan dan kegagalan seseorang adalah atas kehendak-Nya, maka atas hal ini manusia diharapkan untuk memasrahkan dirinya kepada Allah atas segala daya dan upayanya.

1. Kecerdasan Emosional Dapat Meloloskan Manusia Dari Jebakan Syetan

Sesungguhnya Aku menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan hanif semuanya. Dan sesungguhnya mereka didatangi oleh syetan yang menyebabkan mereka tersesat dari agama mereka” ( HR. Abu Dawud dan Tirmidzi ).

a. Marah Dan Kekacauan Pikiran

Marah merupakan emosi dasar yang tampak ketika salah satu motif dasar atau penting yang harus dipenuhi terhambat. Jika ada sesuatu yang menghambat manusia atau hewan dalam memuaskan salah satu motif dasarnya, ia akan marah, berontak, dan melawan penghambat itu untuk mengalahkan dan menghilangkannya sampai ia berhasil mencapai tujuannya dan memenuhi motifnya.

Jika marah terjadi karena ada penghalang dalam mencapai salah satu tujuan luhur yang diperjuangkan dalam mencapai kesempurnaan pribadi kita, maka marah itu adalah marah yang terpuji, bahkan urgen dan wajib. Allah memuji emosi Rasul SAW dan para sahabat dalam berjuang melawan orang-orang kafir dalam rangkan menyebarkan agama Islam. Sebagaimana firman Allah “ Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dia keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.” (QS Al Fath: 29). Akan tetapi marah yang disebabkan hal yang tidak esensial, atau karena perkara-perkara duniawi yang sepele adalah tidak terpuji.

Nabi SAW melukiskan bahwa jika seseorang marah maka jantungnya dipenuhi darah dan aliran darahnya dalam tubuh menjadi sedemikian deras. Hal ini dapat memerahkan permukaan tubuh khususnya wajah dan menyebabkan seorang yang dalam keadaan marah merasakan panas : “Ketahuilah sesungguhnya marah itu adalah bara di dalam hati anak adam. Tidaklah kalian lihat matanya yang merah dan urat lehernya yang tegang”. (HR Tirmidzi). Dalam kondisi marah, karena emosi sedimikian meninggi, pikiran menjadi tertutup dan tidak mampu berfikir jernih. Oleh karena itu, Rasulullah SAW menasehati para sahabat untuk tidak mengeluarkan vonis atau keputusan dalam keadaan marah.

Kemampuan mengendalikan kemarahan berarti selamat dari murka Allah. Abdullah bin Amru pernah bertanya kepada Rasulullah SAW: Apa yang dapat menyelamatkan diriku dari murka Allah?. Jawab Beliau: jangan marah. (HR Thabrany dan Ahmad). Rasululah SAW menyebutkan bahwa kemampuan mengendalikan kemarahan sebagai keperkasaan sejati.

b. Mengendalikan Rasa Takut

Sebenarnya rasa takut bermanfaat dalam kehidupan manusia. Ia mendorong untuk menjauhi situasi bahaya dan menghindari sesuatu yang menyakiti dirinya. Salain itu, jika seseorang memperkirakan adanya bahaya, ia dapat mengambil langkah preventif sebelumnya. Jadi, takut bermanfaat bagi manusia. Rasa takut membantunya untuk bersiap diri menghadapi situasi bahaya.

Sesungguhnya emosi takut yang sangat berguna dalam kehidupan seseorang adalah rasa takut dari adzab Allah. Hal ini mendorongnya untuk mengerjakan kewajiban-kewajiban agama, melakukan semua yang diridloi Allah, menjauhi semua larangan Allah dan menghindari perbuatan dosa dan maksiat. Allah berfirman: “Takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (QS: Ali Imran:175). Penelitian empirik mutakhir menunjukan bahwa takut yang seimbang dan tidak berlebihan, justru bermanfaat dalam mendorong manusia untuk melakukan pekerjaannya dengan baik, sedangkan takut yang berlebihan, akan menimbulkan kegoncangan dan keresahan jiwa, lalu berpengaruh pada rendahnya kualitas kerja.

Dari hasil penelitian ini, Najati (2002) menyimpulkan bahwa rasa takut yang berlebihan akan adzab Allah akan menumbuhkan pesimis dari rahmat Allah. Oleh karena itu penting sekali, emosi takut dari adzab Allah itu dibarengi dengan harapan (raja) meraih rahmat Allah. Dengan demikian, sikap optimis mengharap rahmat Allah dapat meringankan rasa takut yang berlebihan sampai pada tingkat yang rasional sehingga tidak membiarkan sikap pesimis mendominasi seseorang dan pula tidak membiarkan sikap optimis harapan sampai tingkat meremehkan kewajiban agamanya.

2. Menjalin Hubungan Sosial Dengan Ketulusan Cinta

Manusia adalah makhluk sosial. Ia hidup dalam masyarakat yang individu-individunya diikat oleh hubungan yang beragam: hati, sosial, ekonomi dan lain sebagainya. Sejak lahir, seorang anak hidup diantara anggota keluarga yang diikat oleh perasaan cinta, kasih sayang, saling tolong, jujur, loyal, ikhlas, dan ia merasakan ketenangan, kedamaian dan kebahagiaan diantara mereka.

Al Qur’an membimbing kaum muslimin untuk memperkuat tali persaudaraan, cinta, tolong menolong, dan persatuan di antara mereka. Alla berfirman: “dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain.” (QS:9:71) Rasulullah juga menganjurkan kaum muslimin untuk selalu bersatu, saling menyayangi dan mencintai : “Demi dzat yang diriku dalam tangan-Nya. Dan kalian tidak masuk surga sampai kalian beriman. Dan kalian tidak beriman sampai kalian saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukan sesuatu yang membuat kalian saling mencintai ? Sebarkanlah salam diantara kalian.

Dalam hadits diatas, Rasululah menjadikan cinta dan kasih sayang kaum muslimin sebagai syarat keimanan dan syarat masuk surga. Mukmin sejati adalah orang yang mencintai dan dicintai manusia. Sedangkan orang yang tidak mencintai dan dicintai manusia, maka adalah orang yang tidak memiliki kebaikan dan memiliki harapan ampunan dari Allah.

Cinta seorang muikmin kepada manusia harus ikhlas karena Allah semata, bukan karena kepentingan sesaat, tujuan dan ambisi pribadi, atau karena mencari harta, kedudukan dan kekuasaan. Semua tingkah laku seorang mukmin dibimbing oleh cintanya kepada Allah dan harapan memperoleh ridha-Nya. Sesungguhnya sikap saling mencintai dan menyayangi di antara manusia akan memperkuat hubungan sosial diantara mereka dan memperkukuh kesatuan dan persatuan serta kestabilan masyarakat. Individu-individu dalam masyarakat sebenarnya adalah ibarat batu bata dalam bangunan masyarakat. Jika hubungan-hubungan terlepas dan putus karena kebencian dan permusuhan, maka masyarakat juga akan tercerai berai dan runtuh sebagaimana halnya bangunan runtuh jika komponen-komponennya terlepas.

C. Pembahasan

Berdasarkan uraian diatas menunjukan bahwa emosi menduduki posisi yang sangat penting dalam islam. Islam memandang emosi dapat menjadikan manusia yang mulia dihadapan Allah dan dihadapan manusia jika ia dalam memanfaatkannya dengan baik. Akan tetapi sebaliknya manusia dapat terhina didunia dan dihadapan Allah jika ia tidak dapat menafaatkan dengan baik emosi yang dimilikinya.

Islam memberikan petunjuk baik untuk dapat memanfaatkan emosi dengan baik yaitu dengan cara mengendalikan dan mengontrol setiap emosi yang muncul sehingga dapat bermanfaat bagi dirinya. Islam memandang emosi tidak akan dapat dibuang karena itu merupakan fitrah dasar manusia untuk dapat hidup rukun didunia dengan sesama.

Dapat dibayangkan jika manusia tidak memiliki emosi cinta dan kasih sayang, maka manusia tidak akan memiliki keturunan dan kehidupan didunia akan punah. Karena emosi cinta dan kasih sayang itulah manusia dapat menjalin hubungan antara laki-laki dan perempuan, karena cinta dan kasih sayanglah orang tua dapat mengasuh anak-anak meraka dengan baik sehingga akan memunculkan generasi yang unggul.

Kita juga dapat membayangkan jika manusia tidak memiliki emosi marah maka ia tidak akan mempertahankan hidupnya dari hal-hal yang membahayakan dirinya. Karana ternyata berdasarkan penelitian bahwa emosi marah merupakan salah satu emosi yang berfungsi untuk menjaga dan mempertahankan diri manusia dari hal-hal yang dapat membahayakannya.

Demikian juga halnya dengan emosi-emosi yang lain Islam memandang sangat penting perannya bagi manusia untuk hidup di dunia. Oleh karena sangat pentingnya peran emosi bagi manusia maka Islam memandang perlu adanya cara untuk mengontrol dan mengendalikan emosi agar selalu tepat pada sasaran dan tidak merugikan diri sindiri serta orang lain.

Islam menetapkan bahwa dengan imanlah seseorang dapat belajar dan melatih untuk mencerdaskan emosi agar manusia dapat mengontrol dan mengendalikan emosi dengan baik. Karena iman adalah pondasi paling dasar bagi manusia dan keyakinan paling dasar terhadap Allah bahwa tidak ada segala sesuatu yang akan muncul kesuali atas kehendaknya. Demikian juga dengan keimanan yang kuat manusia akan meyakini bahwa segala hal menimpa dirinya adalah berasal dari Allah. Kesulitan-kesulitan yang menimpanya bagi orang yang memiliki keimanan yang kuat dapat dianggap sebagai ujian atau juga dapat dianggap sebagai teguran atas segala hal yang telah diperbuatnya. Dengan keadaan ini manusia akan dapat menyadari dirinya dengan sehingga ia dengan mudah dapat mengontrol emosi dan mengendalikan emosi untuk menghadapi seluruh permasalahannya.

Maka dengan demikain jika manusia ingin meningkatkan kemampuan mengontrol dan mengendalikan emosinya atau mencerdaskan emosinya dengan baik haruslah memiliki keimanan yang kuat terhadap Allah. Karena iman merupakan inti dari seluruh apa yang menjadi ajaran Islam.

D. Kesimpulan

Berdasarkan uraian dan bahasan diatas maka Islam sangat menekankan pentingnya kecerdasan emosi. Keserdasan emosi yang dimaksud dalam islam adalah kemampuan seseorang untuk mengendalikan dan mengontrol emosi dengan baik dengan dilandasi keimanan terhadap Allah. Sehingga emosi yang muncul akan selalu sesuai dengan tuntutan diri dan lingkungannya, dan tidak akan merugikan diri dan orang lain serta bermanfaat bagi diri dan orang lain. Islam memandang bahwa emosi tidak akan dapat dihilangkan karena itu merupakan fitrah manusia untuk kepentingan manusia hidup di dunia.


DAFTAR PUSTAKA

Agustian, A. 2001. Emotional Spiritual Quotient. Jakarta: Arga.

Ahmadi, A. 1992. Psikologi Umum. Jakarta: Renika Cipta.

Departemen Agama RI, 1995. Al Qur’an dan terjemah. Jakarta.

Goleman, D. 1997. Emotional Intelegence. Jakarta: Gramedia.

Gottman, J. 1997. The Haert of Parenting. New York: Mc. Graw Hill.

Hawwa. S. 1998. Mensucikan Jiwa. Jakarta: Rabbani Press.

Myers, D. 1983. Sosial Psychologi. New York: Mc. Groaw Hill.

Najati, U. 1997. Al Qur’an dan Ilmu Jiwa. Bandung: Pustaka.

_______ 2002. Belajar EQ dan SQ dari Sunnah Nabi. Bandung: Mizan.

_______ 2001. Jiwa Manusia Dalam Sorotan Al-Qur’an. Jakarta: Cendikia.

Stein, S.J. 2000. The EQ edge, Emotional Intellegence and Your Success. Toronto: Standard Publishing.

Syarif, 2002. Psikologi Qur’ani, Bandung: Pustaka Hidayah.

Tasmara, T. 2001. Kecerdasan Ruhaniah. Jakarta: Gema Insani Press

Yafie, 2002. Beragama Secara Praktis Agar Hidup Lebih Bermakna, Jakarta: Hikmah

Zulkabir, dkk. 1993. Islam Konseptual dan Kontekstual. Bandung: Itqa