FILSAFAT ILMU
(Riview dari Karya Jujun S Suriasumantri)
OLEH : TAHRIR
(Dosen Fakultas Psikologi UIN Sunan Gunung Djati Bandung)
Orang yang berfilsafat dapat diumpamakan seorang yang berpijak di bumi sedang tengadah ke bintang-bintang. Dan ingin mengetahui hakikat dirinya dalam kesemestaan galaksi. Perumpamaan ini muncul karena karektaristik berfikir filsafat itu bersifat menyeluruh, mendasar, dan spekulatif. Filsafat adalah peneratas pengetahuan dimana semua ilmu, baik ilmu-ilmu alam maupun ilmu-ilmu social, pengembangannya bermula dari filsafat. Cabang filsafat yang kita kenal antara lain adalah : Filsafat pengetahuan (epistemologi), Filsafat moral (etika ), Filsafat seni (estetika), Metafisika, Filsafat pemerintahan (politik), Filsafat agama, Filsafat ilmu, Filsafat pendidikan, Filsafat hokum, Filsafat sejarah, dan Filsafat matematika.
Pada makalah ini penulis akan mencoba membahas tentang filsafat ilmu. Filsafat ilmu merupakan bagian dari epistemologi (filsafat pengetahuan) yang secara spesifik mengkaji hakikat ilmu (pengetahuan ilmiah). Filsafat ilmu merupakan telaahan secara filsafat yang ingin menjawab pertanyaan mengenai “apa yang ditelaah ilmu (ontologi), bagaimana cara mendapatkan penetahuan/ilmu (epistemologi), dan membahas untuk apa pengetahuan yang telah diperoleh mau digunakan (aksiologi).
Manusia adalah satu-satunya makhluk yang memiliki kemampuan menalar yaitu suatu proses berfikir dalam menarik suatu kesimpulan yang berupa pengetahuan. Dengan kemampuan ini menyebabkan manusia mampu mengembangkan pengetahuan yang merupakan rahasia-rahasia kekuasaan-kekuasaan-Nya. Manusia mengembangkan pengetahuannya untuk mengatasi kebutuhan keberlangsungan hidupnya, ia memikirkan hal-hal baru, menjelajah ufuk baru karena dia hidup bukan untuk sekedar keberlangsungan hidup, namun makna kepada kehidupan manusia “memanusiakan” diri dalam hidupnya.
Kemampuan penalaran yang dimiliki manusia merupakan suatu proses berfikir yang membuahkan pengetahuan. Agar pengetahuan yang diperoleh bisa disebut valid maka harus dilakukan dengan proses kesimpulan tertentu (logika) yaitu suatu pengkajian untuk befikir secara sahih. Terdapat bermacam-macam logika namun yang lebih sering digunakan adalah model logika induktif dan logika deduktif. Logika induktif adalah model penarikan kesimulan dari kasus-kasus nyata dan spesifik ditarik menjadi kesimpulan yang bersifat umum. Sedangkan logika deduktif adalah model penarikan kesimpulan dari hal-hal yang bersifat umum menjadi kesimpulan yang bersifat khusus.
Baik logika deduktif maupun logka induktif, dalam proses penalarannya mempergunakan premis-premis yang berupa pengetahuan yang dianggapnya benar. Kenyataan ini membawa kita kepada sebuah pernyataan: bagaimanakah caranya kita mendapatkan pengetahuan yang benar?. Pada dasarnya terdapat dua cara yang pokok untuk mendapatkan pengetahuan yang benar. Pertama adalah mendasarkan diri pada rasio yang kedua mendasarkan diri pada pengalaman. Orang yang menggunakan rasio dalam mendapatkan kebenaran disebut kaum rasionalisme, sedangkan orang yang menggunakan pengalaman untuk mendapatkan kebenaran disebut kaum empirisisme.
Permasalahan berikutnya yang banyak menimbulkan pertanyaan dan perdebatan adalah apa yang disebut teori kebenaran. Tidak semua orang mempunyai persyaratan yang sama terhadap apa yang dianggap banar, termasuk anak-anak dengan pikiran kanak-kanaknya mempunyai criteria kebenaran tersendiri. Teori kebenaran yang didasarkan pada konsistensi pernyataan dan kesimpulan disebut teori koherensi. Paham lain adalah teori kebenaran korespondensi, menurut teori ini pengetahuan dianggap benar jika materi pengetahuan yang dikandung pernyataan itu berkorespondensi (berhubungan) dengan objek yang dituju oleh pernyataan tersebut.
William James (1863-1931) mengajukan teori pragmatis, kebenaran diukur dengan kriteria apakah pernyataan tersebut bersifat fungsional dalam kehidupan praktis. Artinya suatu pernyataan dianggap benar jika pernyataan itu atau konsekuensi dari pernyataan itu mempunyai nilai kegunaan prakitis dalam kehiduan manusia. Pragmatisme bukanlah aliran filsafat melainkan teori dalam penentuan kriteria kebenaran sebagaimana disebutkan diatas. Pragmatism berpaling kepada metode ilmiah sebagai metode untuk mencari pengetahuan tentang ala mini yang dianggapnya fungsional dan berguna dalam menafsirkan gejala-gejala alamiah.
Metode ilmiah merupakan prosedur dalam mendapatkan pengetahuan yang disebut ilmu. Tidak semua pengetahuan dapat disebut ilmu sebab ilmu merupakan pengetahuan yang cara mendapatkannya harus memenuhi syarat-syarat tertentu yaitu metode ilmiah. Ilmu secara sederhana dapat didefinisikan sebagai pengetahuan yang telah teruji kebenarannya. Semua pernyataan ilmiah adalah bersifat factual, dimana konsekuensinya dapat diuji baik dengan jalan mempergunakan pancaindra, maupun dengan mempergunakan alat-alat yang membantu pancaindra ersebut.
Pengujian secara ilmiah merupakan salah satu mata rantai metode ilmiah yang membedakan ilmu dari pengetahuan-pengetahuan lainnya. Pengujian mengharuskan kita untuk menarik kesimpulan yan bersifat umum dari kasus-kasus yang bersifat individual. Pada proses inilah statistik berperan yaitu untuk menarik kesimpulan yang bersifat umum dengan jalan mengamati hanya sebagian dari populasi yang bersangkutan. Karena jika kasus-kasus berjumlah sangat besar tidak mungkin untuk melakukan penelitian terhadap seluruh subjek dengan keterbatasan tenaga, biaya, dan waktu, maka statistik berperan memberikan metode/cara pengambilan data dari subjek yang sangat banyak yaitu dengan menggunakan teknik sampling.
Seperti diketahui berpikir adalah kegiatan metal yang menghasilkan pengetahuan. Metode ilmiah merupakan ekpresi mengenai cara bekerja pikiran. Dengan cara bekerja ini maka pengetahuan yang dihasilkan diharapkan mempunyai karakteristik-karakteristik tertentu yang diminta oleh pengetahuan ilmiah, yaitu sifat rasional dan teruji yang memungkinkan tubuh pengetahuan yang disusunnya merupakan pengetahuan yang dapat diandalkan
Alur pikir yang tercakup dalam metode ilmiah dapat dijabarkan dalam bebrapa langkah yang mencerminkan tahap-tahap dalam kegiatan ilmiah. Kerangka berfikir ilmiah yang berintikan proses logico-hypothetico-verifikasi ini pada dasarnya terdiri dari langkah-langkah sebagai berikut :
1. Perumusan masalah, merupakan pernyataan mengenai objek empiris yang jelas batas-batasnya serta dapat diidentifikasikan factor-faktor yang terkait didalamnya.
2. Penyusunan kerangka berfikir dalam pengajuan hipotesis, merupakan argumentasi yang menjelaskan hubungan yang mungkin terdapat dalam berbagai faktor yang saling mengkait dan membentuk konstelasi permasalahan. Kerangka berfikir ini disusun agar rasional berdasarkan premis-premis yang telah teruji kebenarannya dengan memperhatikan faktor-faktor empiris yang relevan dengan permasalahan.
3. Perumusan hipotesis, merupakan jawaban sementara atau dugaan terhadap pertanyaan yang diajukan yang materinya merupakan kesimpulan dari kerangkan berfikir yang dikembangkannya.
4. Pengujian hipotesis, merupakan pengumpulan factor-faktor yang relevan dengan hipotesis yang diajukan untuk memperlihatkan apakah terdapat fakta-fakta yang mendukung hipotesis tersebut atau tidak.
5. Penarikan kesimpulan, merupakan penilaian apakah sebuah hipotesis yang diajukan itu diterima atau ditolak. Sekiranya dalam proses pengujian terdapat fakta yang cukup mendukung hipotesis maka hipotesis itu diterima. Sebaliknya sekiranya dalam proses pengujian tidak terdapat fakta yang cukup mendukung hipotesis maka hipotesis ditolak. Hipotesis yang diterima kemudian dianggap menjadi bagian dari pengetahuan ilmiah sebab telah memenuhi persyaratan keilmuan yakni mempunyai kerangka penjelasan yang konsisten dengan pengetahuan ilmiah sebelumnya serta telah teruji kebenarannya. Pengertian kebenaran disini harus ditafsirkan secara pragmatis artinya bahwa sampai saat ini belum terdapat fakta yang sebaliknya.
Langkah selanjutnya dalam proses mendokumentasikan pengetahuan ilmaih adalah penulisan keilmuan. Sebenarnya sangat banyak model penulisan ilmiah yang dapat kita temui dalam berbagai pedoman penulisan, namun walaupun demikian tetap jiwa dan penalaranya adalah sama. Berikut adalah pokok-pokok pikiran dalam penulisan ilmiah yang secara logis dan kronologis kerangka penalaran ilmiah.
1. Pengajuan masalah
Langkah pertama dalam suatu penelitian ilmiah adalah mengajukan masalah. Satu hal yang harus disadari bahwa pada hakikatnya suatu masalah tidak pernah berdiri sendiri dan terisolasi dari faktor-faktor lain. Secara kronologis kita dapat menempuh enam langkah dalam Pengajuan masalah yaitu :
a. Latar belakang masalah
b. Indentifikasi masalah
c. Pembatasan masalah
d. Perumusan masalah
e. Tujuan penelitian
f. Kegunaan penelitian
2. Penyusunan kerangka teoritis
Setelah masalah berhasil dirumuskan degan baik maka langkah kedua dalam metode ilmiah adalah mengajukan hipotesis. Hipotesis merupakan dugaan atau jawaban sementara terhadap permasalahan yang diajukan. Proses selanjutnya adalah pengumpulan data secara empiris untuk menguji apakah kenyataan yang sebenarnya mendukung atau menolak hipotesis. Tahap pembuktian empiris hanya sekedar tahap lanjutan dari tahap pengajuan hipotesis. Seyogyanya, dalam artian ilmiah yang peling murni seorang peneliti tidak diperkenankan untuk mengumlulkan data empiris sekiranya belum berhasil menyusun kerangka teoritis.
Agar sebuah kerangka teoritis dapat disebut meyakinkan maka argumentasi yang disusun tersebut harus dapat memenuhi beberapa syarat yaitu : teori harus merupakan pilihan dari sejumlah perkembangan teori baru, teori difokuskan pada cara berfikir ilmuan yang mendasari pengetahuan tersebut, mengidentifikasikan masalah yang timbul sekitar disiplin keilmuan tersebut.
Adapun langkah-langkah dalam peenyusunan kerangka teoritis dan pengujian hipotesis adalah :
a. Pengkajian mengenai teori-teori ilmiah yang akan dipergunakan dalam analisis.
b. Pembahasan mengenai penelitian-penelitian lain yang relevan.
c. Penyusunan kerangka berfikir dalam pengajuan hipotesis dengan mempergunakan premis-premis sebagai tercantum dalam butir (1) dan butir (2) dengan menyatakan secara tersurat postulat, asumsi dan prinsip yang dipergunakan.
d. Perumusan hipotesis
3. Metodologi penelitian
Metodologi adalah pengetahaun tentang metode-metode, jadi metdologi penelitian adalah pengetahuan tentang berbagai metode yang digunakan dalam penelitian.
Adapun langkah-langkah dalam penyusunan metodologi penelitian adalah :
a. Tujuan penelitian secara lengkah dan operasional dalam bentuk pertanyaan yang mengindikasikan variable-variabel dan karakteristik hubungan yang akan diteliti.
b. Tempat dan waktu penelitian
c. Metode penelitian yang ditetapkan berdasarkan tujuan penelitian dan tingkat generalisasi yang diharapkan
d. Teknik pengambilan contoh yang relevan dengan tujuan penelitian, tingkat keumuman dan metode penelitian
e. Teknik pengumpulan data
f. Teknik analisis data
4. Hasil penelitia
Secara singkat hasil penelitian dapat dilaporkan dalam kegiiaan sebagai berikut:
a. Menyatakan variabel-variabel yang diteliti
b. Menyatakan teknik analisis data
c. Mendeskripsikan hasil analisis data
d. Memberikan penafsiran terhadap kesimpulan analisis data
e. Menyimpulkan pengujian hipotesis apakah ditolak atau diterima
5. Ringkasan dan kesimpulan
Hal-hal yang harus dilaporkan dalam kesimpulan adalah sebagai berikut :
a. Deskripsi singkat mengenai masalah, kerangka teoritis, hipotesis, metodologi penelitian dan penemuan penelitian
b. Kesimpulan penelitian yang merupakan sistesis berdasarkan keseluruhan aspek tersebut diatas
c. Pembahasan kesimpulan penelitian dengan melakukan perbandingan terhadap penelitian lain dan pengetehuan ilmiah yang relevan
d. Mengkaji implikasi penelitian
e. Mengajukan saran
6. Abstrak
7. Daftar pustaka
8. Riwayat hidup
9. Usulan penelitian
10. Lain-lain
11. Penutup
Untuk melakukan kegiatan ilmiah secara baik diperlukan sarana berpikir. Penguasaan sarana berpikir ini merupakan suatu hal yang bersifat imperative bagi seorang ilmuwan tanpa menguasai hal ini maka kegiatan ilmiah yang baik tak dapat dilakukan. Sarana ilmiah pada dasarnya merupakan alat yang membantu kegiatan ilmiah dalam berbagai langkah yang harus ditempuh. Sarana yang dapat digunakan untuk berfikir ilmiah adalah bahasa, matematika, dan statistika.
Bahasa dapat dicirkan sebagai serangkaian bunyi, dalam hal ini kita mempergunakan bunyi sebagai alat komunikasi. Manusia mempergunakan bunyi sebagai alat komunikasi yang paling utama. Bahasa juga merupakan lambang dimana rangkaian bunyi membentuk suatu arti tertentu. Rangkaian bunyi yang kita kenal sebagai kata melambangkan suatu objek tertentu umpanya saja gunung atau seekor burung merpati. Manusia mengumpulkan lambang-lambang ini dan menyusun apa yang kita kenal sebagai perbendaharaan kata-kata. Adanya lambang-lambang ini memungkinkan manusia untuk berfikir dan belajar dengan baik.
Matemamtika adalah bahasa yang melambangkan serangkaian makna dari pernyataan yang ingin kita sampaikan. Lambang-lambang matematik bersifat inifisial yang beru mempunyai arti setelah sebuah makna diberikan kepadanya, tanpa itu maka matematika yang hanya merupakan kumpulan rumus-rumus yang mati. Matematika berguna untuk mengatasi kekurangan bahasa yaitu untuk menghilangkan sifat kabur, majemuk, dan emosional dari bahasa verbal.
Penalaran otak manusia itu sangat luar biasa dan cerdas, namun apakah manusia yang mempunyai penalaran tinggi, lalu makin berbudi. Merupakan kenyataan yang tidak bias dipungkiri bahwa peradaban manusia sangat berhutang pada ilmu dan teknologi. Namun dalam kenyataan apakah ilmu selalu berkah, terbebas dari kutuk, yang membawa malapetaka dan kesengsaraan?. Sejak dalam tahap-tahap pertama pertumbuhannya ilmu sudah dikaitkan dengan tujuan perang. Ilmu buka saja digunakan untuk menguasai alam melainkan juga untuk memerangi sesama manusia dan menguasai mereka. Bukan saja bermacam-macam senjata pembunuh behasil dikembangkan namun juga berbagai teknik penyiksaan dan cara memperbudak
Di pihak lain, perkembangan ilmu sering melupakan factor manusia, dimana bukan lagi teknologi yang berkembang seiring dengan perkembangan dan pertumbuhan manusia, namun justru sebaliknya, manusia yang akhirnya harus menyesuaikan diri dengan teknologi. Teknologi tidak lagi berfungsi sebagai sarana yang memberikan kemudahan bagi kehidupan manusia melainkan dia berada untuk tujuan eksistensinya sendiri. Sesuatu yang kadang-kadang harus dibayar mahal oleh manusia yang kehilangan sebagian arti dari kemanusiaanya. Manusia sering dihadapkan dengan situasi yang tidak bersifat manusiawi, terpenjara dalam kisi-kisi teknologi, yang merampas kemanusiaan dan kebahagiaanya.
Dewasa ini ilmu bahkan sudah berada di ambang kemajuan yang mempengaruhi reproduksi dan penciptaan manusia itu sendiri. Jadi ilmu bukan saja menimbulkan gejala dehumanisasi namun bahkan kemungkinan mengubah hakikat kemusiaan itu sendiri, atau dengan perkataan lain, ilmu bukan lagi merupakan sarana yang membantu menusia mencapai tujuan hidupnya, namun bahkan kemungkinan mengubah hakikat kemanusiaan itu sendiri, ilmu bukan sarana untuk membantu manusia mencapai tujuan hidupnya, tapi ilmu telah menciptakan tujuan hidup itu sendiri. Menghadapi kenyataan tersebut di atas maka ilmuwan mulai berpaling kepada hakikat moral.
Sebenarnya sejak saat pertumbuhannya ilmu sudah terkait dengan masalah-masalah moral namun dalam perspektif yang berbeda. Masalah moral tidak bias dilepas dengan tekad manusia untuk menemukan kebenaran, sebab untuk menemukan kebenaran dan terlebih-lebih lagi untuk mempertahankan kebenaran, diperlukan keberanian moral. Sejarah kemanusia dihiasi dengan semangat para martir yang rela menorbankan nyawanya dalam mempertahankan apa yang mereka anggap benar. Peradaban telah menyaksikan Sokrates dipaska meminum racun dan John Huss dibakar. Dan sejarah tidak berhenti berhenti disini, kemanusian tidak pernah urung dihalangi untuk menemukan kebenaran. Tanpa landasan moral maka ilmuan mudah sekali tergelincir dalam melakukan prostitusi intelektual.
Disamping itu ilmuwan juga harus memiliki tanggung jawab social. Betul, bahwa ilmu adalah hasil karya perseorangan namum pada akhirnya harus dikomunikasikan kepada masyarakat dan dikaji secara terbuka oleh masyarakat. Jelas kiranya bahwa ilmuwan harus mempunyai tanggung jawab social yang dipikul di bahunya, bukan saja karena dia adalah warga masyarakat yang kepentingannya terlibat secara langsung di masyarakat namun lebih penting adalah karena dia mempunyai fungsi tertentu dalam kelangsungan hidup bermasyarakat. Fungsinya selaku ilmuwan tidak berhenti pada penelaahan dan keilmuan secara individual namun juga ikut bertanggungjawab agar produk keilmuan sampai dan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.